Thursday, January 25, 2018

Kapan Punya Anak?

Setelah menikah saya terlepas dari pertanyaan "kapan lulus?" yang sering dilontarkan dari kenalan serta keluarga. Namun tidak berhenti disitu ternyata pertanyaan "kapan" ini beralih menjadi "kapan punya anak?". Dan akhir-akhir ini saya sering mendapatkan pertanyaan tersebut di sosial media, kalau lagi ketemu orang dan sering juga datang dari orang yang sama sekali tidak saya kenal. Paling parah ada yang ketemu langsung megang perut terus nanya "udah berapa bulan?". Saya speechless, gak sopan banget langsung megang2 perut orang huhu akhirnya saya jawab "Saya gak hamil bu, saya cuma gendut aja kok" :B

Kadang saya bingung, sebenarnya apa ya tujuan orang bertanya kapan punya anak. Apakah dia ingin mengincar lowongan baby sitter, atau sekedar penasaran aja pengen tahu tanpa ada tujuan dan maksud tertentu, atau mau memberi sudut pandangnya tentang anak  atau mungkin juga dia belum pernah punya teman atau keluarga yang baru nikah dan gak tahu mau ngobrol apa jadi sekedar basa basi nanya aja.

Saya merasa pertanyaan ini sangat pribadi dan agaknya kurang sopan jika diberikan ke orang yang belum kita kenal. Karena pertanyaan seperti ini diluar kendali manusia untuk menjawab. Kalau datangnya dari keluarga dan sahabat dekat masih wajar, karena mereka tahu kondisi kita bagaimana, sehingga menyampaikan jawaban apapun itu bisa diterima dan mungkin dapat dibantu.

Suatu hari ada teman yang membuka obrolan tentang rencana punya anak. Waktu itu dia sedang hamil 3 bulan dan jarak pernikahan kami hanya berbeda 4 bulan. Waktu tahu berita tentang kehamilannya, saya senang sekali. Entah kenapa saya beneran senang kalau denger ada teman yang hamil, serasa nambah keluarga gitu. Kemudian dia bercerita tentang persiapannya, excitednya dll yang saya tanggapi dengan memberi energi positif. Berikutnya giliran dia bertanya kapan saya punya anak, ya saya jawab sejujurnya yaitu saya masih ingin menuntaskan kuliah saya terlebih dahulu. Saya jelaskan bahwa kuliah saya memakan banyak waktu. Sekali mengerjakan tugas saya bisa menghabiskan waktu 6-8 jam. Belum lagi kalau harus begadang. selain itu tenaga dan pikiran saya terkuras untuk menyiapkan presentasi tiap minggu belum lagi uang yang dikeluarkan untuk biaya print ukuran besar dan belanja keperluan kertas, alat gambar dll. Intinya saya merasa belum sanggup.
Walau diluar sana banyak juga ibu-ibu hebat yang bisa kuliah sambil mengurus anak. Namun saya mengenal kapasitas diri saya, dan saat ini saya belum menyanggupi.

Setelah saya menjelaskan alasan diatas, dia malah bilang "Tapi anak kan rejeki, gak baik lho ditunda-tunda". Saya agak kaget sih. Karena saya berekspektasi dia akan mengerti dan mungkin memberi kalimat penyemangat gitu, ternyata tidak. Abis itu dia masih lanjut bercerita tentang bagaimana anak bisa mendatangkan rejeki yang lebih besar. Jujur aja saya agak bingung mau berpendapat apa. Saya setuju sama kalimat anak adalah rejeki atau anak punya rejekinya masing-masing. Tapi kurang bijakasana jika memaksakan hal tersebut ke orang yang secara mental belum siap. Apakah lantas pasutri yang menunda punya anak rejekinya berkurang? walaupun dengan niat yang mulia juga, yaitu untuk melanjutkan pendidikan? Bagaimanapun juga kan semua itu kuasa Allah. Kita gak bisa ngitung rejeki banyak atau enggak. Semuanya sudah diatur, tinggal kita saja yang harus terus berusaha.

Gak berhenti disitu dia masih memaksakan pandangan dia, kali ini terang-terangan dia bilang setelah nikah itu harus segera punya anak, karena mumpung masih muda, diatas 30 nanti sudah susah. Ada kenalannya yang karena nunda jadi susah punya anak, dan sebagainya. yang dimana ada benarnya juga, ya gak salah. Tapi hal seperti itu tidak bisa disamaratakan. Karena setiap individu itu berbeda. setiap tubuh manusia itu berbeda. Ada yang sehat, ada yang dari kecil punya penyakit, ada yang menstruasinya tidak rutin, dsb.
Cara dia menyampaikan itu ke saya seakan dia ingin menakut-nakuti saya. Walau saya paham maksudnya hanya mengingatkan, tapi berada dalam posisi dimana sang lawan bicara memaksakan sudut pandangnya itu sangat tidak nyaman.

Lalu dia menyebutkan nama-nama teman kami, si a, si b, si c yang punya anak sambil kuliah, skripsi, dan bercerita hidup mereka baik-baik saja, selalu ada rejeki dan kalau mereka bisa saya juga pasti bisa.

It hurts me so much. Walaupun saya menunda punya anak bukan berarti saya tidak ingin punya anak. Saya sangat ingin punya anak, namun saya tahu sekarang bukan waktu yang tepat. Dan mendengar dia membanding2kan kondisi saya dengan teman-teman walau maksudnya ingin memberi semangat, tapi berasa kayak dia gak dengerin alasan saya sama sekali. Saya kecewa.

Saya merasa cukup dan saya akhiri obrolan kami dengan menjelaskan, bahwa setiap keluarga itu berbeda kondisi dan prioritasnya ada baiknya tidak menanyakan hal yang pribadi seperti ini terlebih jika kamu hanya ingin memaksakan pandangan kamu.

Jujur aja, setelah diskusi saya tidak pernah mau lagi berdiskusi mengenai hal ini lagi. Karena ini membuat saya tidak percaya diri, atau malah jadi membandingkan diri saya dengan orang lain. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan, karena akan jadi penyakit hati.

Coba pikir deh, anak itu kan manusia. Manusia yang perlu diperhatikan, dicintai, dijaga, dirawat, dididik agar bisa tumbuh menjadi manusia yang baik nan bijaksana. Bayangkan jika proses indah tersebut dilakukan berbarengan dengan diri kita yang belum siap. Diri kita yang masih stress sama hal yang digeluti. Pemikiran yang belum dewasa. Kita paksakan hanya karena tekanan sosial dimana kalau habis nikah itu ya harus punya anak, karena kalau ditunda dosa dan kalau tua susah punyanya.
Tapi coba deh dipikir sekali lagi, apakah tidak berdosa juga kalau kita punya anak dalam keadaan hati yang tidak ikhlas? jiwa dan raga yang belum siap? akhirnya ngurus anaknya ngasal-ngasalan?

Saya yakin untuk bisa membesarkan manusia kita harus percaya pada diri sendiri dulu. Harus merasa siap (walau saya tahu tidak ada yang pernah siap). Seengaknya berada di level yang tenang, jiwa dan raganya. Saya gak mau punya anak hanya karena ikut-ikutan teman yang udah punya anak. Atau malah yang paling saya takutkan dari tekanan sosial ini adalah, saya punya anak atau menjadikan anak itu sebagai alasan untuk tidak melanjutkan tanggung jawab saya (kuliah/kerja) hanya karena saya bosan atau capek dan butuh kegiatan baru. Motherhood seems fun.  padahal itu adalah kontrak seumur hidup. yang dimana nanti kalo saya "bosen" saya gak bisa berhenti dan untuk balik kuliah atau kerja lagi akan lebih sulit. Akhirnya pas udah tua saya jadi ibu-ibu yang tidak bersyukur yang suka menyesal kenapa sih dulu hamil pas kuliah  dan bilang ke anaknya "gara2 ibu hamil kamu, ibu jadi gak lulus kuliah" atau "gara2 ibu hamil  ibu kangen kerja kantor eh kamu lahir". Ini bukan karangan, saya tulis ini berdasarkan pengalaman orang-orang terdekat.

Berbicara dari pengalaman, ibu saya tidak menyelesaikan kuliahnya dulu di universitas Indonesia. Beliau menikah dan hamil saat mendekati semester terakhir. Setelah cuti kuliah, beliau memutuskan untuk kembali kuliah, bertujuan untuk menyelesaikannya. Namun sulit karena pikirannya tidak tenang. Apakah anak sudah makan atau belum, merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada anaknya. Sedih tidak dapat mendampingi pertumbuhan anaknya. Hal-hal ini membuat beliau stress dan memutuskan berhenti. Beliau tidak pernah keluhkan itu, namun tidak dipungkiri ada sesal dan menyayangkan, Mungkin bertanya pada diri sendiri bagaimana jika waktu itu lulus.

Dan sebagai anaknya, saya merasa perlu mewujudkan cita-cita dia yaitu, selesai kuliah (di Jerman).
Beruntung saya, beliau sangat mendukung hal ini dengan tidak memberi beban pertanyaan "kapan punya anak?". Ibu memang selalu tahu yang paling baik.

Kesimpulannya, saya berharap interaksi sesama manusia di Indonesia bisa lebih beragam lagi. Berharap orang bisa membedakan mana pertanyaan yang sopan atau baik ditanyakan ke orang yang tidak dikenal dan berharap pertanyaan yang diluar yang jawabannya diluar kuasa manusia berhenti dipertanyakan (kapan nikah, kapan hamil, kapan mati, dll). Sebagai gantinya kita bisa ngobrolin topik-topik menarik di sekitar kita. Mungkin tentang kesehatan mental, bisnis, atau seni budaya atau mungkin bagaimana hiburan di Indonesia yang kurang beragam? atau solusi mengurangi hoax yang beredar di whatsapp group keluarga? hehe

Terakhir saya ingin menekankan bahwa saya tidak kontra dengan pasangan yang baru nikah langsung punya anak atau sama orang yang meyakini banyak anak banyak rejeki. Saya hanya berharap jika ada obrolan mengenai topik ini, mari diobrolin dengan pikiran terbuka, tanpa ada yang memaksakan pandangannya. Ingat, setiap orang itu berbeda, setiap keluarga punya prioritas masing-masing. Maka hargai keputusan hidup seseorang.

Jadi, kalau punya teman, kenalan, keluarga yang belum hamil, tolong didoain ya.
Semoga dilancarkan urusannya dan dikaruniai anak di waktu yang tepat :)

8 comments:

  1. I know that feeling when someone ask you bout somethin that you hardly knows the answer (kapan kawin, kapan punya anak, dan kapan kapan kapan lainnya), then you tryin to answer it from ur point of view and they still not satisfied with the aswer.
    they seems dont understand that everybody has their own “zona waktu”.
    kalau dia menikah lantas langsung punya anak, apakah semua org harus seperti itu.
    jerman lebih awal 5 jam dri indonesia, bkn berarti lebih lambat atau indonesia lebih cepat.
    semua ada waktunya masing2

    ReplyDelete
  2. waiting for ka vina mengkaryakan buku. aamiin suka terus sama tulisannya :)

    ReplyDelete
  3. kak nambahin widget instagram gimana ya? yang gratis tapi

    ReplyDelete
  4. In our society saya rasa pertanyaan-pertanyaan diatas tidak akan pernah berhenti ditanyakan. Setelah fase yang satu terpenuhi pertanyaan-pertanyaan lain masih menanti >,< #lelah
    Ga usah dimasukin hati ka, senyumin aja dan minta doa mereka.

    Hal yang paling saya ga suka sih kalo seseorang udah merasa paling bener dan bisa ngejudge orang lain. Asli itu udah bikin ilfeel.
    Dan menurut saya kita tidak berhak menjudge keputusan orang lain, kita kan tidak pernah tau struggles apa yang mereka jalani. Dan saya percaya setiap orang dilahirkan dengan kapasitas, struggles, waktu dan takdir yang berbeda-beda. So, instead of judging we can encourage each other. At least with our words and action

    Semangaattt ka vin ^^


    Ooh iya ka, kalo ada waktu coba deh nonton dorama Jepang judulnya "Mother". The drama is about what it takes to be a mother and the child actress played really good~

    ReplyDelete
  5. Mon maap kak vin, mungkin bisa jadi dia tdk tau betapa tdk mudahnya kuliah arsitektur hehe. Namanya siklus hidup ya kak vin sll ada aja hal² yg datang terhadap kita. Contohnya hal yg kakvina alami ini. Semangat ! Org² baik jauh lbh bny disekitat kak vina. Aamiiin 😇

    ReplyDelete
  6. I feel u. Dulu jaman prtengahan semester saat kuliah, tmn saya sdh ada yg mnikah. Dan dia posisinya LDR dgn suaminya. Suaminya kerja dan tmn saya sibuk dgn perkuliahan dan ingin memiliki ank stelah lulus. Krn kita jurusan DKV dan ga memungkinkan utk kuliah sambil hamil atau kuliah smbil urus baby, itu mungkin akn jd sulit jk dilakukan bersamaan. Jurusan DKV pun sperti teknik arsitektur yg sering begadang, dan kuliah slalu praktek kdg 5sks aj bs abisin waktu 5/6 jam di kls. Ya kt hrs ttp bs prtahanin komitmen dan trs positif. Alhamdulillah tmn saya stelah lulus mlakukan promil, dan skrg udh punya baby. Yup, always positive vina! �� insha allah dipermudah setiap niat baiknya, amin.

    ReplyDelete
  7. terimakasih atas informasinya dan jangan lupa kunjungi kami di www.rahma-store.com

    ReplyDelete