Friday, December 23, 2016

What is the purpose of my existence?

Di umur yang memasuki seperempat abad ini, saya sering bertanya ke diri sendiri. Apa tujuan saya hidup? Sebuah pertanyaan klise memang, tapi penting. Kenapa (menurut saya) mempertanyakan hal ini penting? Karena hidup tanpa tujuan yang pasti hanya membuang tenaga dan waktu. Sungguh melelahkan.

Pernah gak kalian merasa mulai bosan dengan hal-hal yang dulu menarik? Seperti bersosialisasi? Ngobrol ngalor ngidul? Begadang nonton drama/main game? Semua itu berbanding terbalik dengan jaman dulu, waktu kita masih di sekolah.
Dulu waktu masih sekolah, saya merasa sangat berenergi.
Setiap pagi sebelum berangkat, saya selalu bersemangat ingin ketemu teman-teman, belajar hal baru, menertawai hari yang berlalu, mencoba mengukir kenangan seru. 
Kenapa sekarang berbeda?
Mungkin karena saya tahu lebih banyak hal, lebih mengerti keadaan sekitar, lebih mawas diri terhadap perubahan. Sehingga energi yang tadinya hanya dipakai untuk bersenda gurau, saya bagikan untuk memikirkan hal-hal baru. Tanggung jawab baru.

Dan hidup berjalan dengan segala perubahan dan tantangan yang ada saya memilih untuk menjadi orang yang peduli dengan perkembangan lingkungan. Saya memilih untuk mempelajari hal yang saya tidak ketahui. Saya memilih untuk mencari tahu perbedaan sudut pandang sebelum saya menghakimi. Saya memilih untuk diam daripada bicara hal buruk. Saya memilih untuk terus memilih dan memilih segala kemungkinan dari suatu perkara.

Namun, semakin saya tahu, semakin saya takut. Saya takut jika saya tidak bisa membantu lebih. Saya takut jika saya hanya hidup untuk bangun makan dan tidur lagi. Karena saya tahu, saya hanya partikel kecil di hidup ini. Suara saya mungkin tak terdengar, muka saya mungkin tak terlihat, eksistensi saya bisa jadi tak berharga. Dibanding mereka yang berada di luar kotak kenyamanan, yang berdiri di barisan depan. Yang menyerukan ‚kebenaran’, yang bertindak atas suatu alasan.
Maka dari itu pertanyaan „what is the purpose of my existence?“ harus saya jawab.

Nabi Muhammad saw pernah berkata bahwa "Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain". Paham. Bagaimana saya dapat bermanfaat dari orang lain?
Dulu saya berfikir untuk dapat berguna saya harus jadi orang penting, membuat organisasi besar yang menolong banyak orang dsb. Namun ketika saya sibuk merencanakan, hidup berlalu begitu saja. Maka saya putuskan untuk mulai dari diri sendiri. Paling sederhana adalah mencoba untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Mungkin biasa bangun siang, kali ini coba bangun pagi. Yang tadinya makan junk food, coba pola makan sehat. Lakukan hal yang selalu ingin saya lakukan dan jadi yang terbaik di bidang tersebut.

Jika saya lebih baik untuk diri saya, otomatis saya akan dikelilingi dengan energi positif yang mendukung saya untuk terus melakukan kebaikan, serta menyebarkannya. Dengan begitu saya akan lebih berguna untuk orang lain. Menjadi contoh baik, adalah cara terbaik untuk menyebarkan kebaikan. ya kan? :B

I took too many things for granted. Karena itu mungkin saya selalu merasa harus mencari sesuatu? Dan bertanya mau jadi apa? Mungkin memang lebih elok mengevaluasi diri sendiri. Bersyukur dan melihat lebih banyak ke diri kita. Menghargai setiap proses perjalanan dan perjuangan diri. Dan Belajar lebih banyak lagi. Sehingga suatu saat nanti, tidak hanya bisa menjawab dengan yakin dan lantang apa tujuan saya hidup tetapi juga dapat memberikan manfaat untuk partikel kecil lain di muka bumi ini.

Peace & love

Tuesday, June 21, 2016

Puasa 19 Jam


Beberapa teman saya di Indonesia bertanya "Apa rasanya puasa 19 jam?" atau "Apa rasanya puasa di Jerman?"

Begini, 5 tahun lalu saya adalah bagian dari mayoritas. Tinggal di Jakarta dan berpuasa selama 13 jam lamanya, dilakukan bersama keluarga dan teman, serta segala fasilitas tempat ibadah dan suasana yang mendukung/memudahkan jalannya ibadah tahunan ini.

Mungkin sama seperti sebagian besar muslim lainnya, saya pun kesulitan. Beradaptasi untuk tidak makan dan minum serta belajar memahami makna dari kegiatan ini. Mempertanyakan kenapa tidak boleh makan? kenapa tidak boleh minum? kenapa dari subuh sampai maghrib?

Tanpa saya sadar kesulitan ini tidak sebanding ketika dengan saya berpuasa di Eropa.

Kenapa demikian?

Disini saya menjadi minoritas.
Tidak ada adzan subuh atau maghrib, waktunya lebih lama dari Indonesia (berhubung sekarang musim panas), tempat makan tetap buka seperti biasa. Tidak semua orang mengerti apa itu puasa, penasaran, bahkan juga menganggap itu hal yang kurang sehat. Ibadah harianpun menjadi sulit ketika, tidak ada waktu istirahat pada hari jumat dan juga tidak ada tanggal merah pada hari raya.

Jadi, apa rasanya?

Seru dan nikmat.

Serius. Kalo ngomongin soal laper atau enggak, ya pasti lapar ya. Yang nahan 13 jam aja lapar, apalagi yang 19 jam. Seru disini adalah ketika kita harus melawan diri sendiri dan menyakinkan seberapa sayang kita sama sang pencipta.

Kehidupan disini berjalan seperti biasa, tanpa tahu umat muslim sedang puasa. Saat cuaca panas, kanan dan kiri saya makan es krim atau minun jus, saya harus rela menelan ludah atau hanya istighfar ,karena gak mungkin juga kan saya minta dingertiin untuk gak makan dan minum depan saya? 

Sama halnya pada saat saya melihat barang di toko, seringkali suka 'laper mata' atau bermalas2an. saya suka mikir "puasa tujuannya untuk menahan nafsu" dan kedua ini termasuk nafsu yang susah banget dilawan. Maka ketika saya menang melawan diri saya sendiri, maka itulah reward untuk saya. Dan saya senang sekali dapat merasakan hal ini. 

Rasa kedua adalah nikmat. Nikmat karena saya jadi sadar bahwa betapa beruntungnya hidup saya di Jakarta dulu. Suasana yang sama tidak akan terasa disini, namun berjuang untuk menahan seharian dan menerima hadiah di penghujung hari adalah kenikmatan yang super sekali. Apalagi kalau bisa dilakukan bersama, seperti saat berbuka puasa di kedutaan.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini. Seperti mengerti perasaan kaum minoritas dan bagaimana menjadi mayoritas adalah berkah yang luar biasa namun bisa jadi comfort zone yang tidak sehat. Mencoba memahami makna dari puasa, tidak sekedar lapar dan haus. Belajar mengerti apa arti 'menahan' yang sesungguhnya. Puasa memang membuat hidup jadi sederhana, hidup tanpa membutuhkan banyak embel-embel lainnya dan hidup dengan berbagi. Dan begitulah seharusnya kita hidup. 

Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi cerminan untuk teman-teman di tanah air atau di belahan bumi lainnya. Mari jadikan bulan ramadan ini momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, keluarga, saudara dan teman.

Selamat melanjutkan ibadah :)

p.s. video tentang puasa akan saya unggah sabtu ini ke youtube, ditunggu ya!

Friday, June 10, 2016

Antara Kebutuhan dan Keinginan

Sesaat lalu saya tergelitik untuk melakukan sesuatu diluar rencana hidup saya. 
Sesuatu ini membutuhkan proses dan ujian sebelum dapat dimiliki. Namun saya percaya diri kalau saya mampu dan saya selalu tahu kalau saya ingin, setidaknya untuk mencoba. 

Sudah 5 tahun perasaan yang sama menggelitik di hati saya, lebih dari itu rasa ingin ini jauh saya rasakan sebelum saya lulus SMA. Kenapa baru setelah 5 tahun saya mencoba? karena saya pengecut. Saya takut gagal dan tidak percaya diri. Karena hal ini membuat saya bahagia dan brsemangat sehingga jika saya gagal saya khawatir akan sangat kecewa. Efeknya, saya selalu mengelak untuk mencoba.

Sampai pada akhirnya, kesempatan itu datang. tidak jelas dari mana. Ada sebuah dorongan besar, dukungan dari orang-orang yang cinta kepada saya, dan yakin bahwa saya harus mencoba. Mereka menjabarkan bakat saya, dan mengingatkan saya bahwa kecintaan saya terhadap hal ini tidak akan sia-sia. Mereka percaya kalau saya harus mencoba. 

Dimulai dari meminta. Sebenarnya sudah tutup pendaftarannya, namun saya meminta untuk diizinkan mencoba. setelah urus sana sini, saya dapat undangan. Undangan untuk 'memamerkan' karya saya. Pertarungan pencarian idepun dimulai dengan sebuah kata "Lebih Baik". Dua kata ini punya makna yang sangat luas dan dapat diaplikasikan dimana saja. Maka kemampuan saya untuk menyampaikan ide harus sangat baik sehingga dapat dimengerti. 

Persiapan yang terhitung sebentar mengantarkan saya pada hari dimana saya super gugup. Satu persatu ide saya sampaikan. Namun setelahnya saya tidak memiliki rasa 'puas'. Saya tahu bahwa ini hasilnya bukan bahagia.

Mereka katakan dua minggu. Tunggu dua minggu. Dalam tunggu ku berdoa, mengharap yang terbaik. Menjadikan ini tolak ukur atas kemampuan dan usahaku. Namun ternyata harapan dan doa tidak akan mengubah nasib. Aku tidak memenuhi kualifikasi untuk menjadi calon mahasiswi jurusan desain. Ya. Itu hal yang sangat ingin saya coba. 

Sedih rasanya. Seakan tertipu oleh rasa percaya diri dan dorongan kesempatan. 
Mungkin ini semua hanya sentilan. 
Mungkin ini ujian. 
Mungkin juga pertanyaan "Sejauh mana kamu akan mencoba?"

Pada akhirnya saya sadar bahwa keinginan hanyalah rasa yang belum tentu harus dimiliki.
Sedang kebutuhan adalah sesuatu yang berpotensi membuat saya lebih baik. 

Sahabat saya bilang "Tantangan/kesulitan itu tidak untuk dihindari, namun dilawan agar manusia menjadi lebih baik"

Na ja, setidaknya saya sudah mencoba dan tidak penasaran lagi.

Mensyukuri apa yang dimiliki dan bekerja sekuat tenaga serta ikhlas memang membuat hidup ini terasa ringan. Walau sedikit ambisi juga tidak salah.

so, remember this.

"Do what you need to do, not what you want to do"

-------------------------------------------------------------

p.s. Saya masih kuliah Arsitektur (kok)