Tuesday, May 1, 2018

Wanita Yang Melihat Terang Dalam Gelap

Pas di Indonesia kemarin, saya sempet main ke Bandung untuk mengunjungi mertua. Dari rumah di Jakarta ke rumah di Bandung bisa naik krl sampe gambir terus naik kereta antar kota sampai stasiun Bandung. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 3 jam. Enak gak macet, tapi sayang sampe sana malah gak enak badan karena mungkin masih capek perjalan 24 jam dari Jerman beberapa hari sebelumnya. Akhirnya mama mertua nawarin untuk manggil tukang pijit. Karena suka dipijit dan karena di Jerman pijit itu mahal banget, saya dengan senang hati langsung mengiyakan tawaran tersebut. Ditelefonlah tukang pijitnya langganen, yang bernama bu Ela. Gak berapa lama bu Ela datang. Turun dari ojek pelan-pelan lalu mengeluarkan tongkat penuntun sambil jalan menghampiri saya. Iya, beliau buta.

Sambil mijit Bu Ela cerita kalau biasanya beliau punya jadwal yang lumayan padat, sehari kalo lagi sibuk banget bisa lebih dari satu orang. Katanya waktu muda bisa mijit banyak tapi akhir-akhir ini bu Ela mengurangi jumlah pelanggan cuma maksimal satu orang sehari karena capek katanya. Pijitan bu Ela enak, beliau menyesuaikan sama kenyamanan pelanggan, bukan tipe yang ditekan sampai sakit gitu.

Nah karena dipijit itu canggung kalau diam tapi kalau tidur kebangun-bangun akhirnya saya ajak bu Ela ngobrol. Saya tanya, "bu Ela sudah berapa lama buta?" Terus dijawab "dari umur 17 tahun kayaknya. Waktu itu mata saya sakit gak tahu kenapa terus dibawa ke dokter. Selama perawatan entah kenapa penglihatannya makin buram eh terus lama-kelaman hilang, jadi gelap total".
Pas denger jawaban bu Ela saya langsung mikir, bagaimana seorang anak 17 tahun bisa melewati masalah tersebut. 17 tahun tuh jamannya main sama temen, beli baju atau jepit rambut yang lucu, pergi ke bioskop rame-rame. Semua kegiatan itu sangat mengandalkan visual.

Beliau bilang dulu rasanya sedih banget, takut dan kaget. Yang tadinya dunia terang tiba-tiba sekejap jadi gelap. Beliau sempat mengurung diri selama 5 tahun, menyesuaikan dan meyusun kembali tujuan hidupnya. Teman yang yang tadinya suka main lama-lama mulai berkurang. Bahkan pacarnya beliau di masa itu juga pelan-pelan ninggalin. Diantara 5 tahun tersebut beliau sempat kepikiran untuk bunuh diri, karena menurutnya untuk apa hidup kalau tidak bisa melihat dan kesepian dalam gelap.

Alhamdulillah niat tersebut gak pernah terlaksana. Ibunya bu Ela aktif nyari tahu tentang apa yang bisa dilakukan orang tunanetra sampai akhirnya memutuskan untuk memasukkan beliau ke sekolah luar biasa (SLB).  Disitulah hidup bu Ela kembali berwarna. Beliau bertemu dengan banyak orang, bisa berteman lagi, bisa bertukar cerita lagi. Menurut beliau SLB sangat membantu menumbuhkan semangatnya. Di sana siswa siswi diarahkan sesuai bakatnya. Ada yang mendalami seni, dan banyak juga yang mengikuti pelatihan pijit. Tapi ternyata pelatihannya ini serius lho, kata bu Ela mereka dilatih profesional. Sesekali guru dari SLB-nya mengikuti pelatihan di Luar negri. Karena rupanya di beberapa negara, pemijat merupakan profesi yang baik. Tapi entah kenapa saya merasa di Indonesia belum bisa dihargai. Terbukti dari masih banyaknya pemijat dengan upah yang rendah. Padahal memijat itu tidak mudah. Dibutuhkan konsentrasi yang tinggi, tenaga untuk menekan bagian-bagian tubuh serta suasana hati yang baik, karena memijat bisa jadi sangat membosankan.

Tak hanya untuk guru, ada juga program beasiswa sekolah di luar negri untuk murid. Waktu itu salah satu teman dekat bu Ela dapat kesempatan itu dan dikirim ke Jepang selama 4 tahun. Pas pulang dia cerita kalau di Jepang sangat nyaman sekali untuk orang cacat. Fasilitasnya super lengkap. Salah satu yang paling berkesan adalah di setiap jalannya ada tactile paving. "Tactile Paving adalah adalah sistem indikator permukaan tanah bertekstur yang ditemukan di trotoar, tangga dan platform stasiun kereta api untuk membantu pejalan kaki yang mengalami gangguan penglihatan." Nah, hal ini keliatan simpel dan mungkin sebagian besar dari kita yang normal gak tahu, tapi ini berarti banget banget banget buat para tunanetra. Karena gak jarang dari mereka yang kalau lagi jalan di trotoar eh terus trotoarnya hilang atau kasus yang parah bisa sampai kecebur got atau gorong-gorong. Serem banget gak sih?

Lanjut cerita. Saya gak nyangka kalau saya akan mendengar sebuah kisah cinta yang luar biasa indahnya. Jadi pas umur 30an bu Ela menikah dengan pria yang juga seorang tunanetra. Bedanya suami bu Ela buta dari lahir. Bu Ela semangat banget nyeritain nikahan mereka. Katanya pesta seharian sampai ganti baju 3 kali gitu hehe. Suaminya suka banget ngeraba muka bu Ela, katanya mau ngebayangin istrinya yang cantik. Bayangin deh kalau buta dari lahir kan berarti segala sesuatu yang ada di benaknya murni imajinasinya. Berarti cantik versi suaminya bu Ela bisa jadi gak terpengaruh sama cantik yang ada di iklan, cantik model catwalk, dan cantik2 lainnya. Dia punya standar cantiknya sendiri. Dan seringkali dia bilang ke bu Ela "kalau aku bisa lihat, aku cuma mau lihat wajah kamu aja".

Seringkali kita suka sama pasangan pasti ada faktor fisik, mau wajah, atau tubuh. Setelah lama bersama muncul rasa bosan, mulai membandingkan. Nah mereka jatuh cinta karena sifatnya, dari cara bicaranya, dari bagaimana ia membagikan sudut pandangnya. Karena sesungguhnya sebuah kekurangan adalah kelebihan. Karena jika ada sesorang yang jatuh cinta padamu, berarti dia mencintaimu apa adanya. Bahkan pas gw tanya "kok bu Ela mau nikah sama suaminya? Kenapa? Waktu itu taunya gimana?", "Ya karena baik. Dan kata ibu saya dia rapih". Simpel banget :)

Interaksi mereka gemes banget deh. Misalnya suaminya ngajak nonton. Nonton film serem Susana lewat rekaman gitu (saya baru tahu ada rekaman film) terus pas lagi denger bareng, bu Ela ketakutan kan, "ih serem" eh suaminya bingung "apa seremnya neng?", "Ya kan kuntilanakanya keluar","emang kuntil anak kayak apa?" Yah capek deh hahaha. Ini semua karena bu Ela butanya baru pas umur 17. Jadi sempat melihat banyak hal. Sewaktu-waktu suaminya suka menanyakan hal-hal acak seperti "neng warna merah tuh kayak apa sih?" Nah lho bingung gak ditanya gitu hehe. Terus pernah mereka ke kebun binatang mau liat buaya katanya. Tapi waktu itu perginya gak sama yang bisa lihat, jadi muter-muter deh nyari aja sampe akhirnya mereka nyerah dan nanya ke orang "Pak kandang buaya dimana ya?", dijawab "Lah ini di depan ibu kandangnya" hehehe  gemes yah. Buat bu Ela interaksi kayak gitu gak bikin dia sedih, justru bikin dia ketawa senang dan mengukir kenangan tersendiri di hatinya.


Yang hebat, suaminya bu Ela ini lulusan S1 hukum lho. Dia kuliah di universitas swasta. Terus saya bingung kan gimana caranya bisa mengikuti pelajaran. Katanya, kalau lagi seminar biasa dia gak masalah, tapi kalo pas ujian dia butuh ada yang nemenin bacain soalnya sama nuntun dia nulis jawaban. Niatnya mau ikut nyalon jadi pns karena ternyata pns menyediakan kuota khusus difabel. Tapi sayangnya rejekinya gak disitu, akhirnya suami bu Ela jadi tukang pijit sama kayak beliau. Katanya "ya rejeki itu bentuknya kan beragam mbak, bisa datang dari mana aja yang penting masih bisa makan dan hidup sehat"

Saat saya tanya bu ela kira-kira apa sih yg masih jadi kenadala besar buat seseorang seperti bu Ela hidup di Indonesia? Dia bilang selain jalan yang gak jelas bentuknya, belum ada kebijakan untuk tunanetra contohnya untuk mendaftar rumah subsidi. Karena prosesnya yang ribet harus punya a,b,c, sedangkan mereka gak bisa setara tapi mereka punya uang untuk membayar. Hal seperti ini yang bikin frustasi. Sisanya semua mengarah baik. Seperti handphone sekarang bisa pakai audio jadi tiap jam berganti, atau dipencet bisa mengeluarkan suara.  Terus adanya aplikasi seperti gojek gitu super membantu memudahkan dalam bepergian. Dulu kan mesti nanya-nanya orang kalau mau naik angkot nomer berapa dan ke arah mana.


------

Pertemuan singkat yang tidak disengaja ini bikin saya jadi bercermin lagi dan lebih mensyukuri hidup yang saya punya. Bu Ela dan energi positifnya membuat saya berusaha untuk jadi manusia yang gak egois. Manusia yang harus mikirin manusia lainnya juga. Karena dunia ini gak berputar buat saya doang. Ada orang lain yang berbeda yang membutuhkan bumi yang sama. Ada baiknya kita saling berbagi.

Terima kasih Allah atas hidup ini. Atas indra yang lengkap ini.




Kemarin gak sengaja ketemu film berdurasi 30 menit ini yang
sangat cocok menggambarkan cerita bu Ela.

------

Hal apa yang kamu syukuri hari ini?

2 comments:

  1. Haloo kak vinaa..
    thankyou for inspiring story..
    cerita ini wajib banget aku share kemana2 haha
    bu ela keren, suaminya juga keren.. jadi pengen ketemu kapan2, buat dengerin true story nya hehe

    oia kak, tanya dong
    emang di postdam, tukeng pijet brp euro kak?
    oia ka vina pernah ngebayangin juga ga? gimana kalau kita di posisi bu ela?

    satu lagi, baca ini bikin aku kepikiran
    someday, if i can create apps, i will create special apps for them..
    berasa banget, harusnya mereka bisa merasakan hal yang sama dengan kita
    begitupun kalau ka vina besok buat video ytb lagi, kalau gak capek sekalian dibuatin subtitle nya ya kak, biar temen2 tuli bisa menikmati video ka vina yg keren itu

    once again, thankyou kak :*

    ReplyDelete